WaliyullahAli al-Baytiwafat di Bait Aa-Maslamah pada tahun 915 H. Waliyullah Abu Bakar bin Ibrahim binal-Imam Abdurrahman Assegaf dilahirkan di kota Tarim. di Jawa Timur, sedangkan keturunan al-Habib Umar bin Alwi al-Haddad sebagian besar beradadi Pasar Minggu (termasuk al-Habib Alwi bin Thahir al-Haddad) Waliyullah Ahmad bin Abi Bakar PemakamanHabib Ali bin Abdurrahman Assegaf akan dilakukan di Kompleks Makam Habib Kuncung di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Hal itu sebagaimana disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni atau PA 212, Novel Bamukmin. Novel mengatakan, kabar tersebut diperolehnya dari menantu Habib Ali Assegaf, Habib Sholeh bin Baqir Al Athos. BacaJuga: Ucapkan Kabar Duka, UAS Bagikan Momen Genggam Erat Tangan Habib Ali Dikutip SuaraJakarta.id—grup Suara.com—dari akun Facebook Habib Ahmad Kazim Al-Kaff, Marga Assegaf diturunkan oleh Al-Quthub Ar-Robbani Faqihil Muqaddam At-Tsani Al-Imam Abdurrahman Assegaf.. Imam Abdurrahman Assegaf merupakan putra dari Imam Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Faqih Muqaddam. wOwSb. Karomah Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf Bermunajat 41 Hari Temukan Sumber Air Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dimakamkan di TPU Lolongok, di Jalan Lolongok, Bogor, Jawa Barat. Berjarak 200 Meter dari makam guru Beliau, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas Habib Empang Bogor. Makam beliau sangat asri dan nyaman untuk membaca doa karena terdapat alas karpet. “Banyak peziarah yang datang kesini”, ujar seorang Ibu tua yang menjadi penjaga makam. Wali Allah yang mengajar tanpa kenal lelah, sederhana, ikhlas, selalu mementingkan kesederhanaan dan disiplin. Kedisiplinan Beliau tidak hanya dalam hal mengajar, tapi juga dalam soal makan. “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu.” tutur Habib Ali bin Abdurrahman, putra Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Mengenai keikhlasan dan kedermawanannya, beliau selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Ketika masih menjadi pelajar, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri mejadi murid kebanggaan dan disayang oleh para guru. Beliaulah satu-satunya murid yang sangat menguasai tata bahasa Arab dan acuan bagi murid lain. Tata bahasa Arab adalah ilmu yang digunakan untuk memahami kitab-kitab klasik yang lazim disebut “kitab kuning”. Setelah menginjak usia dewasa, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dipercaya sebagai guru di madrasahnya. Disinilah bakat dan keinginannya untuk mengajar semakin menyala. Beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar dan tidak hanya piawai dalam ilmu-ilmu agama, tapi juga melatih bidang-bidang yang lain, seperti melatih kelompok musik dari seruling sampai terompet , drum band, bahkan juga baris-berbaris. Salah satu kisah mengenai karomah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri adalah ketika beliau membuka Majlis Taklim Al-Buyro di Parung Banteng Bogor sekitar tahun 1990. Sebelumnya sangat sulit mencari sumber air bersih di Parung Banteng Bogor. Ketika membuka majlis Taklim itulah, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri bermunajat kepada Allah SWT selama 40 hari 40 malam, mohon petunjuk lokasi sumber air. Pada hari ke 41, sumber belum juga ditemukan. Maka Beliau meneruskan munajatnya. Tak lama kemudian, entah darimana, datanglah seorang lelaki membawa cangkul. Dan serta merta ia mencangkul tanah dekat rumah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Setelah mencangkul, ia berlalu dan tanah bekas cangkulan itu ditinggal, dibiarkan begitu saja. Dan, subhanallah, sebentar kemudian dari tanah bekas cangkulan itu merembeslah air. Sampai kini sumber air bersih itu dimanfaatkan oleh warga Parung Banteng, terutama untuk keperluan Majelis Taklim Al-Busyro. Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri mempunyai putra dan putri 22 orang; diantaranya Habib Muhammad, pemimpin pesantren di kawasan Ceger; Habib Ali, memimpin Majelis Taklim Al-Affaf di wilayah Tebet; Habib Alwi, memimpin Majlis Taklim Zaadul Muslim di Bukit Duri; Habib Umar, memimpin pesantren dan Majlis Taklim Al-Kifahi Ats-Tsaqafi di Bukit Duri dan Habib Abu Bakar, memimpin pesantren Al-Busyro di Citayam. Hal ini sesuai dengan pesan Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri yang menekankan bahwa dirinya tidak mau meninggalkan harta sebagai warisan untuk anak-anaknya. Beliau hanya mendorong anak-anaknya agar mencintai ilmu dan mencintai dunia pendidikan. Beliau ingin kami konsisten mengajar, karenanya beliau melarang anaknya melibatkan diri dengan urusan politik maupun masalah keduniaan, seperti dagang, membuka biro haji dan sebagainya. Karomah Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf Bermunajat 41 Hari Temukan Sumber Air Sumber Pemuda Majlis Rasulullah SAW Editor Mas Ahmad Pos terkaitKaromah Foto Mbah Maimoen Zubair Dirasakan Langsung Santri MaduraKisah Unik Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri Saat Bahtsul MasailRahasia Ilmunya Syaikhona Kholil Mengalir Pada Mbah Manab Lirboyo Al Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Cikini adalah salah satu ulama generasi kedua dari garis keturunan keluarga al-Habsyi yang telah menetap di negeri Habib Abdurrahman terlahir dari keluarga besar al-Habsyi pada cabang keluarga al-Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib di Semarang. Nasab lengkapnya adalah Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib bin Muhammad al-Ashghar bin Alwi bin Abubakar yang bernama Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi adalah yang pertama kali datang dari Hadhramaut dan menetap di Pontianak dan kemudian menikah dengan seorang putri dari keluarga Kesultanan Pontianak. Kakeknya ini pun ikut mendirikan Kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga catatan pada kitab rujukan “Nasab Alawiyyin” susunan Habib Ali bin Ja’far Assegaf dituliskan, dengan jelas bahwa Habib Abdullah Ayah Habib Abdurrahman adalah seorang kelahiran Hadhramut, Yaman tepatnya di Abdurrahman sering juga disebut sebagai “Putra Semarang” karena selain pernah menetap di Pontianak, Habib Abdullah bin Muhammad al-Habsyi ayah Habib Cikini yang semasa hidupnya memiliki aktivitas berdagang antar pulau, juga pernah menetap di Semarang. Namun dari sebuah tulisan menyatakan bahwa dia menikah pertamakali di naskah juga menyebutkan, ibu Habib Abdurrahman adalah seorang syarifah dari keluarga Assegaf di Abdurrahman juga memiliki hubungan sejarah yang erat dengan Habib Syekh dan Raden Saleh. Diantara sejarah kehidupan Habib Abdurrahman yang didapat dari sejumlah sumber adalah bahwa dia sahabat karib Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih Botoputih-Surabaya.Hal tersebut diantaranya dicatat dalam catatan kaki Ustadz Dhiya’ Shahab dalam bukunya “Syams adz-Dzahirah”. Selain itu berdasarkan cerita Habib Abdurrahman menikahi Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang adalah adik dari maestro lukis Raden karena tidak dikaruniai keturunan, dia pun kembali menikah dengan Hajah Salmah dari Jatinegara. Dari pernikahannya dengan Salmah tersebut kemudian lahir Habib Ali dan Habib Abdul ketika akan melahirkan Habib Ali, Salmah bermimpi menggali sumur yang mengeluarkan air meluap dan membanjiri sekelilingnya. Habib Abdurrahman yang mendengar mimpi istrinya segera menemui Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, meminta pendangan. Menurut sahabatnya itu, mimpi tersebut merupakan pertanda kalau Habib Abdurahman akan menapatkan seorang putra yang saleh dan ilmunya melimpah-limpah memiliki putra yang pandai dalam ilmu agama, Habib Abdurahman juga memiliki banyak murid yang pandai dalam mengembangkan agama Islam, khususnya di wilayah Jakarta. Salah satu murid Habib Abdurahman yang paling tersohor adalah Habib Ahmad Bin alwi Al Hadad yang dikenal dengan Habib Habib Abdurahman wafat pada 1881, jasadnya dikebumikan di belakang Hotel Sofyan, di antara Jalan Cikini Raya dan Kali Ciliwung, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat di tanah pekarangan rumah makamnya tersebut bahkan kemudian didirikan sebuah bangunan sederhana yang dimaksudkan sebagai qubah makamnya. Meski tak seramai makam putranya sendiri, dari waktu ke waktu makamnya kerap diziarahi memang tak meninggalkan catatan yang cukup memadai untuk memaparkan lebih jauh ihwal sosok dan sejarah hidup Habib Abdurrahman. Namun demikian, makamnya, yang sejak dulu terus diziarahi, kedekatannya dengan orang seperti Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih Botoputih, Surabaya, perhatiannya yang mendalam terhadapa masa depan putranya, yaitu Habib Ali, terutama dalam hal bekal keilmuan, serta jalinan kekeluargaan yang dia miliki, cukup menjadi indikasi bahwa dia sosok yang saleh yang memiliki perhatian mendalam pada ilmu-ilmu agama dan memiliki kedudukan terpandang satu karomah dari Habib Abdurrahman adalah keberadaan air yang keluar secara deras dari dalam makamnya saat akan dipindahkan. Sehingga namanya pun dikenal dengan Habib pun berduyun - duyun mendatangi makam tersebut, tak sedikit diantara mereka yang mendatanginya untuk keperluan mengambil air tersebut. Dimana diyakini oleh sebagian orang bahwa air itu memiliki khasiat yang istimewa diantaranya untuk mengobati berbagai penyakit. Selain itu akibat keluarnya air yang mengalir deras tersebut pemindahan makam urung dilakukan dan makamnya tetap berada di Cikini, Menteng, Jakarta seorang jamaah majelis dzikir asal Jakarta Barat yang kerap mengikuti pengajian mengaku mendapat berkah dari karomah sang Habib. Dimana saat sumur di rumahnya di bilangan Jakarta Barat mengalami kekeringan, salah satu rekan sesama jamaahnya menyarankan agar dirinya berziarah dan mengambil sedikit air di makam sang Habib dan menuangkannya di sumur miliknya di Jakarta Barat."Alhamdulilah sumur saya yang semula kering bisa kembali berisi air dengan melimpah. Tentunya ini terjadi berkat pertolongan Allah SWT semata bukan karena syirik dengan mempercayai air keramat tersebut," timpal salah satu jamaah. Sumber - شاعر الشعب محجوب شريففي ذكراه،، ما بين كرامة أوروبا وكرامة محجوب شريف!. كيف استلف محجوب شريف ثقافتها لشوارع العاصمة؟!.“الهبابة” حجم ورقها A5، ولها غلاف من نفس حجم ومقاس أوراقها التي لا تتعد العشرين صفحة أو أقل، بسيطة وذات رونق جميل، وما أضفى عليها حُسن المنظر هو في كونها لا تحتوي على أي الوان بل هي بالأسود والأيض، أما موادها فهي من نوع الموضوعات خفيفة الظل، لم تكن متحذلقة في المعلومات التي تطرحها، بل كانت بسيطة بساطة مؤسسها، تدخل إلى العقل بتؤدة فيهضمها بروية ويختزنها دون عناء فهم، وهي ذات الموضوعات الصحفية التي تناسب الكبير والصغير معاً، وهي تحتوي على وجبة ثقافية دسمة سريعة الهضم، أو هذا ما أراده لها مؤسسها وصاحب امتيازها. هكذا أصدرها محجوب شريف بعد أن أقنع بفكرتها عدداً من أصدقائه الصحفيين والمحررين والكتاب حتى الكبار منهم والذين تداعوا – بعد هضم مضمون الفكرة – لمساعدة محجوب على التنفيذ بهمة ومحبة، وتبرع لتصميمها عدد آخر من أصدقائه ومريديه التشكيليين أيضاً، وهكذا بدأ إصدارها ينتظم دورياً، وحالما أصبح شهرياً ثم اسبوعياً فيما “الهبابة” هي فكرة “كرامة لله يا محسنين” بتلك النغمة كسيرة الخاطر للسائل والمحروم، فما بالك أن تجري على أفواه صغار بريئين لا مأوى لهم في الدنيا!. فكرتها أن يقوم بتسويقها “الشماسة الصغار” والذين يغذون السير في الطرقات بحثاً عن فتات الخبز بين القمامة وفضلات المطاعم وبقايا الطعام في الطرقات، بحيث يتم توزيع هذه المجلة لهم مجاناً، فيحمل الواحد من هؤلاء الصغار عدداً منها كيفما استطاع توزيعها، ثم يبيعها في محطات المواصلات وفي الأسواق ووسط المارة وعند الاستادات الرياضية وحشود الناس في كل مناسبة، حيث أن صغر حجم المجلة والموضوعات المسلية التي تحتويها تصبح سهلة التناول وتمكن قارئها من تصفحها أثناء الانتظار سواء في طوابير المواد التموينية كصفوف العيش أمام الطوابين،، أو طلمبات البنزين أو داخل دور الرياضة بين الشوطين أو خلافه، ثم أن ثمنها الذي لا يتعدى مبلغاً زهيداً يشجع القراء للتجاوب مع الباعة الصغار الذين يستفيدون من ريع بيها في مصروفاتهم، وهي تقف بديلاً عن “الشحدة” أو إراقة ماء الوجه من أجل الحصول على لقمة عيشهم، بينما ينهرهم الناس ويطردونهم ويشتمونهم، فيلملم هؤلاء الصغار بقايا كرامتهم وينزوون متنقلين إلى آخرين يحسنون فيهم الاحسان!.ما هو مدهش، هو أن الفكرة وبحذافيرها، وقفت عليها عندما أتيحت لي فرصة الحياة في أوروبا فيما بعد!، حيث أن منظمات المجتمع المدني الأوروبية والتي تهتم بحياة ومعيشة الـ ” homeless” والذين لا مأوى لهم – وهم كثر – في طرقات أوروبا، تخصص لهم مجلات دورية بنفس فكرة وأهداف مشروع محجوب شريف، بحيث تجد هؤلاء الذين بلا مأوى يحملون المجلة المعنية ويقومون بتسويقها في تجمعات الناس سواء أمام المحال التجارية أو بوابات المترو أو استادات الرياضة المختلفة، أو أماكن الديسكو واللهو أو خلافه!.سؤالي الذي لم يجاوب عليه محجوب حتى الآن هو من أين استمد روح الفكرة وكيف واتته في الأساس، وهو الذي لم يغادر السودان وقتها لأي بلد أوروبي، لكي يقف على الفكرة وينقلها كأحد مشاريعه الاجتماعية التي يتوسل بها مساعدة ذوي الحاجات؟!. وهي ليست تجربة محجوب الأولى في مثل هذه النشاطات ذات الأفكار المدهشة. إن هذه الفكرة تجسد إنتاج شرافة جديدة يستشرف بها محجوب آفاق التكافل الاجتماعي في السودان، ويطور من روح التضامن والاحسان، ولذا فهو القائل عن صدق واعتبارـ “ﺗﻤﺸﻰ ﺍﻧﺖ ﺗﻠﻘﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻀﻠﻤﻪ..ﻟﻤﺒﻪ ﺃﻟﻒ ﺿﺤﻜﻪ ﺣﻠﻮﻩ ﺗﺴﻨﺪﻙ ﺑﺠﻨﺒﻪ”فمحجوب في غالب أشعاره الانسانية الصميمة يلامس شغاف القلوب الرحيمة، ودائماً ما يبشر بمشاريع العدل الاجتماعي، والدعوة للعمل من أجلها، وما فكرة مجلة “الهبابة” إلا أوضح مثال لدعواته لكي يتحول المجتمع لكي يكون بالنسبة لهؤلاء الأطفال بمثابة الأم الرؤوم والأب العطوف ،، أن يكون الكفيل الرؤوف!. إنها روح الابتكار والقدرة النشطة على ابتداع ما يمكن أن ينتج فكرة غير تقليدية، تلك الكامنة لدى محجوب، وله منها عليه الرحمة مخزون جم لا ينضب معينه، وسنستعرضها تباعاً في هذا الكتاب!.هل يمكن لجهة ما أن تحرص على اسمرارية هذه الفكرة العبقرية إحساناً بشماسة البلاد وتخليداً لذكرى شاعر مجيد كمحجوب الذي تسرب من بين الأصابع ويستحق أكثر من ذلك؟!. ـــــــــــــــــ * ضمن كتاب تحت الطبع بعنوان “محجوب شريف ،، حكايات بلا حدود”. زر الذهاب إلى الأعلى نحن نستخدم ملفات تعريف الارتباط على موقعنا الإلكتروني لمنحك التجربة الأكثر ملاءمة من خلال تذكر تفضيلاتك وتكرار الزيارات. بالنقر فوق "قبول الكل" ، فإنك توافق على استخدام جميع ملفات تعريف الارتباط. ومع ذلك، يمكنك زيارة "إعدادات ملفات تعريف الارتباط" لتقديم موافقة خاضعة للرقابة.